Rabu, 14 September 2011

dasar waktu sholat

Ini yang pokok :

DASAR HUKUM WAKTU SHALAT
1.      Surah An-Nisa : 103
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa: 103)[1]

2.      Surah Hud : 114
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Hud : 114).[2]

3.      Surah Al-Isra : 78
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh.Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Isra : 78)[3]

4.      Surah Thaha : 130
“Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.”  (Thaha : 130)[4]

5.      HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Jabir bin ‘Abdullah
“Bahwasanya malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw untuk mengajarkan waktu-waktu shalat lalu Jibril maju ke depan sedangkan Rasul di belakangnya dan orang-orang berada di belakang Rasul. Lalu shalat dhuhur ketika matahari tergelincir. Lalu Jibril datang (lagi) ketika bayangan sesuatu itu sesuai dengan (tingginya), mereka melakukan seperti yang pernah dilakukan, lalu Jibril maju ke depan sedangkan Rasul di belakangnya dan orang-orang di belakang Rasul, kemudian shalat ashar. Lalu Jibril datang lagi ketika matahari terbenam. lalu Jibril maju ke depan sedangkan Rasul di belakangnya dan orang-orang di belakang Rasul, lalu shalat maghrib. Kemudian Jibril datang (lagi) ketika awan merah itu hilang, lalu Jibril maju ke depan sedangkan Rasul di belakangnya dan orang-orang di belakang Rasul, lalu shalat isya. Kemudian Jibril datang (lagi) ketika terbit fajar, lalu Jibril maju ke depan sedangkan Rasul di belakangnya dan orang-orang di belakang Rasul, lalu shalat pagi atau subuh. Pada hari berikutnya Jibril datang (lagi) ketika bayang-bayang sesuatu itu sama dengan (tinggi)nya. Lalu mereka melakukan seperti apa yang pernah mereka lakukan pada hari sebelumnya, lalu  shalat dhuhur. Kemudian Jibril datang (lagi) ketika bayangan sesuatu itu dua kali tingginya, lalu mereka melakukan seperti yang pernah mereka lakukan pada hari sebelumnya kemudian shalat ashar. Kemudian Jibril datang (lagi) ketika matahari terbenam lalu mereka melakukan seperti yang pernah mereka lakukan pada hari sebelumnya lalu shalat maghrib. Kemudian Jibril datang (lagi) lalu mereka melakukan seperti yang pernah mereka lakukan pada hari sebelumnya lalu shalat isya. Lalu kami tertidur lalu bangun, tertidur (lagi) dan bangun. Kemudian Jibril datang (lagi) ketika fajar menyingsing dipagi hari, bintang-bintang pun samar-samar lalu mereka melakukan shalat subuh lalu Jibril berkata “saat diantara waktu itu adalah waktu shalat.” (HR. Imam Ahmad, Nasai dan Tirmidzi)[5]

6.      HR. Muslim dari Abdullah bin Amr
Waktu dhuhur apabila matahari tergelincir sampai bayang-bayang seseorang sama dengan tingginya, yaitu selam belum datang waktu ashar. Waktu ashar selama matahari belum menguning. Waktu maghrib selama mega merah belum hilang. Waktu isya sampai tengah malam. Waktu subuh mulai terbit fajar selam matahari belum terbit”. (HR. Muslim)[6]


 Ingin tahu dasar / landasan kapan waktu kita sholat secara lengkap ? Klik disini

Kesimpulan :
  1. Sebetulnya  waktu sholat yang kita kerjakan (misal Dhuhur pukul 11.45) bersifat Ijtihat (baca : hisab) sesuai ilmu pengetahuan manusia agar suatu daerah bisa melaksanakan bersama
  2. dari dasar tersebut Islam ternyata TIDAK MEMPERSULIT DIRI , so ..kalau hanya kurang 1 detik, 1 menit misalnya TIDAK BISA dikatakan TIDAK SAH
  3. Kalau sholat wajib saja dengan HISAB kenapa saat awal romadhon/Idul fitri  tidak mengakui HISAB (perhitungan ) sebagai salah satu metode penentuannya ..
  4. kalau mau konsisten sebetulnya  setiap mau sholat HARUS melihat hilal dulu seperti semangatnya saat melihat hilal saat  romadhon.
  5. Untuk itu MARI kita terbuka pikiran bahwa metode penentuan romadhon baik itu RU'YAH (dengan melihat HILAL) atau pun HISAB sama2 kita hargai ... itu ...yang disebut the real moslem ... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar